Ada satu fenomena yang selalu menarik perhatian saya: dua tim dengan kompetensi teknis yang hampir sama bisa menghasilkan output yang jauh berbeda, hanya karena satu tim "enak" untuk diajak bekerja sama dan satu lagi tidak. Bukan soal siapa yang lebih pintar. Soal siapa yang lebih nyaman untuk berada di dekatnya dalam waktu lama.
Kalau dipikir dengan kerangka yang lebih sistematis, ini
sebenarnya bukan hal ajaib atau sekadar "chemistry". Sikap — baik
positif maupun negatif — berperilaku seperti sistem yang menular: satu simpul
yang emosinya stabil dan positif bisa menaikkan kondisi seluruh jaringan di
sekitarnya, sementara satu simpul yang penuh keluhan bisa menurunkan performa
kolektif tanpa orang itu sadar sedang melakukannya.
Energi Itu Menyebar, Bukan Berhenti di Diri Sendiri
Bayangkan setiap orang dalam sebuah tim sebagai simpul dalam
sebuah jaringan yang saling terhubung. Ketika satu simpul memancarkan sinyal
negatif — mengeluh, sinis, gampang marah — sinyal itu tidak berhenti di simpul
itu saja. Ia merambat ke simpul-simpul tetangga, memengaruhi suasana hati
mereka, lalu menyebar lebih jauh lagi ke simpul-simpul berikutnya. Efek ini
berlaku sebaliknya untuk sinyal positif: ketenangan, antusiasme, dan sikap
suportif juga merambat dengan pola yang sama.
Bedanya, penelitian di bidang psikologi organisasi justru
menunjukkan bahwa sinyal negatif punya daya rambat yang lebih agresif dibanding
sinyal positif — mirip virus yang lebih cepat menular dibanding vaksin yang
menetralisirnya. Karena itu, menjaga energi positif bukan sekadar soal menjadi
orang yang menyenangkan, tapi soal mengelola sebuah sistem penularan yang,
kalau dibiarkan tanpa kendali, cenderung condong ke arah negatif duluan.
Kenapa Orang Ingin Bekerja dengan Orang yang Positif
Dalam politik maupun dunia kerja, kompetensi teknis sering
dianggap sebagai satu-satunya alasan orang direkrut, dipromosikan, atau diajak
berkoalisi. Padahal dalam praktiknya, banyak keputusan kolaborasi — siapa
diajak masuk tim, siapa dipercaya memimpin proyek, siapa dipertahankan meski
masa sulit — ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana yang jarang diucapkan
secara terbuka: "Apakah nyaman berada di dekat orang ini dalam jangka
waktu lama?"
Orang yang energinya positif membuat orang lain merasa lebih
ringan menghadapi masalah, lebih berani mengambil risiko, dan lebih terbuka
untuk jujur ketika ada yang salah. Sebaliknya, orang yang energinya negatif —
meski kompeten — membuat orang di sekitarnya diam-diam menyimpan energi ekstra
hanya untuk "bertahan" berinteraksi dengannya. Energi ekstra itu,
betapapun kecilnya, adalah ongkos yang terus menumpuk dan pada akhirnya membuat
orang lain menjauh secara perlahan.
Riset dan Tradisi Keilmuan yang Mendukung
Supaya tidak berhenti di intuisi semata, mari lihat
bagaimana gagasan ini didukung riset akademik maupun khazanah keilmuan Islam.
Dari jurnal psikologi organisasi internasional. Studi
tentang emotional contagion di tempat kerja menemukan bahwa penularan emosi
secara signifikan memengaruhi performa kerja individu, dengan kontribusi yang
terukur terhadap variasi hasil kerja karyawan. Tinjauan sistematis lain tentang
penularan emosi di lingkungan kerja mendokumentasikan bagaimana suasana afektif
satu anggota tim bisa menyebar dan memengaruhi kohesi kelompok, kepercayaan,
serta performa keseluruhan tim. Riset skala besar terhadap seribu karyawan
bahkan menemukan bahwa penularan emosi positif seperti kegembiraan berasosiasi
dengan berkurangnya gangguan tidur karyawan, sementara penularan emosi negatif
seperti kemarahan justru meningkatkan gangguan tidur dan masalah kesehatan yang
berimbas pada keselamatan kerja.
Dari perspektif ulama NU tentang akhlak. Dalam kajian
tasawuf-akhlak yang dipublikasikan NU Online, dijelaskan bahwa husnul khuluq
atau akhlak mulia — termasuk sikap ramah, murah senyum, dan lapang dada
terhadap orang lain — merupakan penanda kesempurnaan iman seseorang,
sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya. Kajian yang sama menekankan bahwa ujian
sesungguhnya dari akhlak baik bukan pada situasi mudah, melainkan pada
kesabaran menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain — sikap
yang jauh lebih berat daripada sekadar bersikap ramah ketika semua berjalan
lancar.
Dari tasawuf Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali dalam Ihya'
Ulumuddin menjelaskan bahwa husnul khuluq memunculkan rasa kasih sayang dan
kelembutan pada orang di sekitarnya, sementara akhlak buruk hanya membuahkan
rasa saling benci dan permusuhan. Beliau bahkan menempatkan kesabaran terhadap
gangguan dari orang lain sebagai ujian tertinggi dari akhlak mulia, dan
mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad tetap tersenyum dan menahan amarah meski
diperlakukan kasar. Pesan yang bisa ditarik dari sini relevan sekali dengan tema
energi positif: sikap positif yang sesungguhnya justru paling teruji ketika
lingkungan sedang tidak positif, bukan ketika semuanya sudah berjalan mulus.
Dari ilmuwan klasik: Ibnu Miskawaih. Sebagai filsuf dan etikus Muslim yang dijuluki "bapak etika Islam", Ibnu Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq menjelaskan akhlak mulia lahir dari kepekaan emosional terhadap keadaan orang lain — semacam kemampuan berempati yang bersifat universal. Ia juga mengembangkan teori "jalan tengah" (al-wasath), yaitu keutamaan akhlak selalu berada di posisi tengah antara dua sikap ekstrem. Diterapkan pada energi positif, teori ini menegaskan bahwa sikap positif yang sehat bukan optimisme berlebihan yang menutupi masalah, dan juga bukan sikap negatif yang larut dalam keluhan — melainkan sikap seimbang yang tetap realistis namun tidak menular-negatifkan orang di sekitarnya.
Baik dari riset penularan emosi di tempat kerja, akhlak mulia ala NU, tasawuf Al-Ghazali, maupun etika jalan tengah Ibnu Miskawaih — semuanya menunjuk pada satu simpulan yang sama: energi yang kita bawa ke sebuah ruangan tidak pernah berhenti pada diri kita sendiri, dan menjaga energi itu tetap positif adalah bentuk tanggung jawab sosial, bukan sekadar gaya hidup personal.
Energi Positif vs Energi Toksik: Perbandingan Cepat
Contoh Praktik Nyata yang Bisa Dicoba
Latihan "cek energi" sebelum masuk ruangan.
Sebelum memulai rapat, kelas, atau pertemuan apa pun, luangkan 10–20 detik
untuk sadar: energi apa yang sedang saya bawa saat ini? Kalau sedang lelah atau
kesal, tarik napas dulu dan sadari bahwa energi itu akan menular begitu Anda
membuka pintu.
Terapkan "aturan tiga positif, satu keluhan".
Kalau ingin menyampaikan keluhan atau kritik dalam sebuah diskusi, biasakan
menyampaikan minimal tiga hal positif atau solutif terlebih dahulu. Ini bukan
basa-basi, tapi cara melatih otak untuk lebih sering mencari yang bisa
diperbaiki daripada yang bisa disalahkan.
Beri apresiasi spesifik, bukan basa-basi umum. Alih-alih
hanya bilang "kerja bagus", sebutkan detail konkret: "Cara kamu
menjelaskan poin tadi ke klien tadi jelas sekali, saya jadi lebih paham."
Apresiasi yang spesifik menular lebih efektif dibanding pujian umum yang terasa
template.
Praktikkan senyum dan sapaan sebagai kebiasaan, bukan
reaksi. Sesederhana menyapa lebih dulu atau tersenyum saat bertemu kolega di
pagi hari, meski suasana hati sedang tidak terlalu baik. Kebiasaan kecil ini,
seperti dijelaskan dalam tradisi akhlak yang dibahas di atas, punya efek besar
dalam meredakan ketegangan tanpa perlu usaha berarti.
Jangan sebarkan keluhan ke orang yang tidak bisa
menyelesaikannya. Sebelum mengeluh tentang seseorang atau situasi ke rekan
kerja lain, tanyakan dulu: apakah orang ini bisa membantu menyelesaikan
masalah, atau saya hanya akan menularkan energi negatif tanpa solusi? Kalau
jawabannya yang kedua, cari saluran yang lebih tepat — atasan, mentor, atau
memang pihak yang berwenang menyelesaikannya.
Evaluasi mingguan: siapa yang merasa lebih ringan setelah
bicara dengan saya? Di akhir minggu, coba renungkan interaksi-interaksi yang
terjadi. Apakah orang-orang di sekitar Anda pulang dengan energi yang lebih
baik atau lebih terkuras setelah berinteraksi dengan Anda? Jawaban jujur atas
pertanyaan ini adalah indikator paling akurat tentang jenis energi yang sedang
Anda sebarkan.
Penutup
Dalam politik maupun kehidupan profesional, kompetensi
membuka pintu, tapi energi yang menentukan apakah pintu itu tetap terbuka dalam
jangka panjang. Orang mungkin lupa detail argumen yang Anda sampaikan di sebuah
rapat, tapi mereka jarang lupa bagaimana perasaan mereka setelah berinteraksi
dengan Anda.
Menjaga energi positif bukan berarti berpura-pura bahagia
atau menutupi masalah dengan senyum palsu. Ia berarti sadar bahwa setiap kali
Anda memasuki sebuah ruangan, Anda sedang membawa sesuatu yang akan menyebar —
dan memilih dengan sengaja apa yang ingin Anda sebarkan.
Referensi
- "Impact of Emotional Contagion on Work Performance of Employees", kajian psikologi organisasi.
- "A scoping review of emotional contagion research with human subjects", Frontiers in Psychology (2025).
- "The impact of emotional contagion on workplace safety: Investigating the roles of sleep, health, and production pressure", PMC.
- "Ujian Terberat untuk Menjadi Orang Berakhlak Mulia", NU Online (mengutip Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, juz III (bab husnul khuluq).
- Ibnu Miskawaih, Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A'raq.
Kopi Berpolitik — ngobrol politik santai, mikirnya tetap serius.